Senin, 18 Februari 2013

EMPAT PULUH MACAM OBYEK MEDITASI

Dalam Samatha Bhavana ada 40 macam obyek meditasi. Obyek-obyek meditasi ini dapat dipilih salah
satu yang kiranya cocok dengan sifat atau pribadi seseorang. Pemilihan ini dimaksudkan untuk membantu
mempercepat perkembangannya. Pemilihan sebaiknya dilakukan dengan bantuan seorang guru.

Keempat puluh macam obyek meditasi itu adalah :
Sepuluh kasina (sepuluh wujud benda), yaitu :
1. Pathavi kasina = wujud tanah
2. Apo kasina = wujud air
3. Teja kasina = wujud api
4. Vayo kasina = wujud udara atau angin
5. Nila kasina = wujud warna biru
6. Pita kasina = wujud warna kuning
7. Lohita kasina = wujud warna merah
8. Odata kasina = wujud warna putih
9. Aloka kasina = wujud cahaya
10. Akasa kasina = wujud ruangan terbatas

Sepuluh asubha (sepuluh wujud kekotoran), yaitu :
1. Uddhumataka = wujud mayat yang membengkak
2. Vinilaka = wujud mayat yang berwarna kebiru-biruan
3. Vipubbaka = wujud mayat yang bernanah
4. Vicchiddaka = wujud mayat yang terbelah di tengahnya
5. Vikkahayitaka = wujud mayat yang digerogoti binatang-binatang
6. Vikkhittaka = wujud mayat yang telah hancur lebur
7. Hatavikkhittaka = wujud mayat yang busuk dan hancur
8. Lohitaka = wujud mayat yang berlumuran darah
9. Puluvaka = wujud mayat yang dikerubungi belatung
10. Atthika = wujud tengkorak

Sepuluh anussati (sepuluh macam perenungan), yaitu :
1. Buddhanussati = perenungan terhadap Buddha
2. Dhammanussati = perenungan terhadap Dhamma
3. Sanghanussati = perenungan terhadap Sangha
4. Silanussati = perenungan terhadap sila
5. Caganussati = perenungan terhadap kebajikan
6. Devatanussati = perenungan terhadap makhluk-makhluk agung atau para dewa
7. Marananussati = perenungan terhadap kematian
8. Kayagatasati = perenungan terhadap badan jasmani
9. Anapanasati = perenungan terhadap pernapasan
10. Upasamanussati = perenungan terhadap Nibbana atau Nirwana

Empat appamañña (empat keadaan yang tidak terbatas), yaitu :
1. Metta = cinta kasih yang universal, tanpa pamrih
2. Karuna = belas kasihan
3. Mudita = perasaan simpati
4. Upekkha = keseimbangan batin

e. Satu aharapatikulasanna (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan)

f. Satu catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dalam badan jasmani)

Empat arupa (empat perenungan tanpa materi), yaitu :
1. Kasinugaghatimakasapaññatti = obyek ruangan yang sudah keluar dari kasina
2. Akasanancayatana-citta = obyek kesadaran yang tanpa batas
3. Natthibhavapaññati = obyek kekosongan
4. Akincaññayatana-citta = obyek bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan

a. Sepuluh kasina (sepuluh wujud benda)
Dalam kasina tanah, dapat dipakai kebun yang baru dicangkul atau segumpal tanah yang dibulatkan.
Dalam kasina air, dapat dipakai sebuah telaga atau air yang ada di dalam ember. Dalam kasina api,
dapat dipakai api yang menyala yang di depannya diletakkan seng yang berlobang. Dalam kasina
angin, dapat dipakai angin yang berhembus di pohon-pohon atau badan. Dalam kasina warna, dapat
dipakai benda-benda seperti bulatan dari kertas, kain, papan, atau bunga yang berwarna biru, kuning,
merah, atau putih. Dalam kasina cahaya, dapat dipakai cahaya matahari atau bulan yang memantul di
dinding atau di lantai melalui jendela dan lain-lain. Dalam kasina ruangan terbatas, dapat dipakai
ruangan kosong yang mempunyai batas-batas disekelilingnya seperti drum dan lain-lain.
Disini, mula-mula orang harus memusatkan seluruh perhatiannya pada bulatan yang berwarna biru
misalnya. Selanjutnya, dengan memandang terus pada bulatan itu, orang harus berjuang agar
pikirannya tetap berjaga-jaga, waspada, dan sadar. Sementara itu, benda-benda di sekeliling bulatan
tersebut seolah-olah lenyap, dan bulatan tersebut kelihatan menjadi makin semu dan akhirnya sebagai
bayangan pikiran saja. Kini, walaupun mata dibuka atau ditutup, orang masih melihat bulatan biru itu
di dalam pikirannya, yang makin lama makin terang seperti bulatan dari rembulan.

b. Sepuluh asubha (sepuluh wujud kekotoran)
Dalam sepuluh asubha ini, orang melihat atau membayangkan sesosok tubuh yang telah menjadi
mayat diturunkan ke dalam lubang kuburan, membengkak, membiru, bernanah, terbelah di tengahnya,
dikoyak-koyak oleh burung gagak atau serigala, hancur dan membusuk, berlumuran darah,
dikerubungi oleh lalat dan belatung, dan akhirnya merupakan tengkorak. Selanjutnya, ia menarik
kesimpulan terhadap badannya sendiri, "Badanku ini juga mempunyai sifat-sifat itu sebagai kodratnya,
tidak dapat dihindari". Disinilah hendaknya orang memegang dengan teguh di dalam pikirannya obyek
yang berharga yang telah timbul, seperti gambar pikiran mengenai mayat yang membengkak dan lainlain.
Sepuluh anussati (sepuluh macam perenungan)
Dalam Buddhanussati, direnungkan sembilan sifat Buddha. Kesembilan sifat Buddha tersebut
adalah maha suci, telah mencapai penerangan sempurna, sempurna pengetahuan dan tingkah lakunya,
sempurna menempuh jalan ke Nibbana, pengenal semua alam, pembimbing manusia yang tiada
taranya, guru para dewa dan manusia, yang sadar, yang patut dimuliakan.
Dalam Dhammanussati, direnungkan enam sifat Dhamma. Keenam sifat Dhamma itu adalah telah
sempurna dibabarkan, nyata di dalam kehidupan, tak lapuk oleh waktu, mengundang untuk
dibuktikan, menuntun ke dalam batin, dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing.
Dalam Sanghanussati, direnungkan sembilan sifat Ariya-Sangha. Kesembilan sifat Ariya-Sangha itu
adalah telah bertindak dengan baik, telah bertindak lurus, telah bertindak benar, telah bertindak patut,
patut menerima persembahan, patut menerima tempat bernaung, patut menerima bingkisan, patut
menerima penghormatan, lapangan untuk menanam jasa yang tiada taranya di alam semesta.
Dalam silanussati, direnungkan sila yang telah dilaksanakan, yang tidak patah, yang tidak ternoda,
yang dipuji oleh para bijaksana, dan menuju pemusatan pikiran.
Dalam caganussati, direnungkan kebajikan berdana yang telah dilaksanakan, yang menyebabkan
musnahnya kekikiran.
Dalam devatanussati, direnungkan makhluk-makhluk agung atau para dewa yang berbahagia, yang
sedang menikmati hasil dari perbuatan baik yang telah dilakukannya.
Dalam marananussati, orang harus merenungkan bahwa pada suatu hari, kematian akan datang
menyongsongku dan makhluk lainnya; bahwa badan ini harus dibagi-bagikan olehku kepada ulat-ulat,
kutu, belatung, dan binatang lainnya yang hidup dengan ini; bahwa tidak ada seorang pun yang
mengetahui kapan, di mana, dan melalui apa orang akan meninggal, serta keadaan yang bagaimana
menungguku setelah kematian.
Dalam kayagatasati, orang merenungkan 32 bagian anggota tubuh, dari telapak kaki ke atas dan dari
puncak kepala ke bawah, yang diselubungi kulit dan penuh kekotoran; bahwa di dalam badan ini
terdapat rambut kepala, bulu badan, kuku, gigi, kulit, daging, urat, tulang, sumsum, ginjal, jantung,

hati, selaput dada, limpa, paru-paru, usus, saluran usus, perut, kotoran, empedu, lendir, nanah, darah,
keringat, lemak, air mata, minyak kulit, ludah, ingus, cairan sendi, air kencing, dan otak.
Dalam anapanasati, orang merenungkan keluar masuknya napas. Dengan sadar ia menarik napas,
dengan sadar ia mengeluarkan napas.
Dalam upasamanussati, orang merenungkan Nibbana atau Nirwana yang terbebas dari kekotoran
batin, hancurnya keinginan, putusnya lingkaran tumimbal lahir.

d. Empat appamañña (empat keadaan yang tidak terbatas)
Empat appamañña ini sering disebut juga sebagai Brahma-Vihara (kediaman yang luhur).
Dalam melaksanakan metta-bhavana, seseorang harus mulai dari dirinya sendiri, karena ia
tidak mungkin dapat memancarkan cinta kasih sejati bila ia membenci dan meremehkan dirinya
sendiri. Setelah itu, cinta kasih dipancarkan kepada orang tua, guru-guru, teman-teman laki-laki
dan wanita sekaligus. Akhirnya, yang tersulit adalah memancarkan cinta kasih kepada musuhmusuhnya.
Dalam hal ini mungkin timbul perasaan dendam atau sakit hati. Namun, hendaknya
diusahakan untuk mengatasi kebencian itu dengan merenungkan sifat-sifat yang baik dari
musuhnya dan jangan menghiraukan kejelekan-kejelekan yang ada padanya. Perlu diingat
bahwa kebencian hanya dapat ditaklukkan dengan cinta kasih.
Dalam karuna-bhavana, orang memancarkan belas kasihan kepada orang yang sedang ditimpa
kemalangan, diliputi kesedihan, kesengsaraan, dan penderitaan.
Dalam mudita-bhavana, orang memancarkan perasaan simpati kepada orang yang sedang
bersuka-cita; ia turut berbahagia melihat kebahagiaan orang lain.
Dalam upekkha-bhavana, orang akan tetap tenang menghadapi suka dan duka, pujian dan
celaan, untung dan rugi.
e. Satu aharapatikulasañña (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan)
Dalam satu aharapatikulasañña, direnungkan bahwa makanan adalah barang yang menjijikkan
bila telah berada di dalam perut; direnungkan bahwa apapun yang telah dimakan, diminum,
dikunyah, dicicipi, semuanya akan berakhir sebagai kotoran (tinja) dan air seni (urine).
Satu catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dalam badan
jasmani)
Dalam satu catudhatuvavatthana, direnungkan bahwa di dalam badan jasmani terdapat empat
unsur materi, yaitu :
1. Pathavi-dhatu (unsur tanah atau unsur padat), ialah segala sesuatu yang bersifat keras atau
padat. Umpamanya : rambut kepala, bulu badan, kuku, gigi, dan lain-lain.
2. Apo-dhatu (unsur air atau unsur cair), ialah segala sesuatu yang bersifat berhubungan yang
satu dengan yang lain atau melekat. Umpamanya : empedu, lendir, nanah, darah, dan lainlain.
3. Tejo-dhatu (unsur api atau unsur panas), ialah segala sesuatu yang bersifat panas dingin.
Umpamanya : setelah selesai makan dan minum, atau bila sedang sakit, badan akan terasa
panas dingin.
4. Vayo-dhatu (unsur angin atau unsur gerak), ialah segala sesuatu yang bersifat bergerak.
Umpamanya : angin yang ada di dalam perut dan usus, angin yang keluar masuk waktu
bernapas, dan lain-lain.

g. Empat arupa (empat perenungan tanpa materi)
Dalam kasinugaghatimakasapaññati, batin yang telah memperoleh gambaran kasina
dikembangkan ke dalam perenungan ruangan yang tanpa batas sambil membayangkan,
"Ruangan! Ruangan! Tak terbatas ruangan ini!" dan kemudian gambaran kasina dihilangkan.
Jadi, pikiran ditujukan kepada ruangan yang tanpa batas, dipusatkan di dalamnya, dan
menembus tanpa batas.
Dalam akasanancayatana-citta, ruangan yang tanpa batas itu ditembus dengan kesadarannya
sambil merenungkan, "Tak terbataslah kesadaran itu". Ia harus berulang-ulang memikirkan
penembusan ruangan itu dengan sadar, mencurahkan perhatiannya kepada hal tersebut.
Dalam natthibhavapaññati, orang harus mengarahkan perhatiannya pada kekosongan atau
kehampaan dan tidak ada apa-apanya dari kesadaran terhadap ruangan yang tanpa batas itu. Ia
terus menerus merenungkan, "Tidak ada apa-apa di sana! Kosonglah adanya ini".
Dalam akincaññayatana-citta, orang merenungkan keadaan kekosongan sebagai ketenangan
atau kesejahteraan, dan setelah itu ia mengembangkan pencapaian dari sisa unsur-unsur batin
yang penghabisan, yaitu perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk pikiran, dan kesadaran sampai
batas kelenyapannya. Jadi, setelah kekosongan itu dicapai, maka kesadaran mengenai
kekosongan itu dilepas, seolah-olah tidak ada pencerapan lagi.

0 komentar:

Poskan Komentar